Wednesday, November 24, 2010

bungaku . . .

hai bungaku . . .
semalam aku bermimpi bertemu denganmu
kau hayalkanku dengan taman-taman indahmu
beserta haruman mewangi menyusuk kalbuku
sungguh melalaikan aku diketika itu

hai bungaku . . .
janganlah kau gugur sebelum sampai waktumu
temani aku yang sentiasa merundumkan rindu
hanya kau sahaja nyawa tambahanku
kerna itu aku sering menyedut manisan yang ada padamu

terima kasih kerna mengerti luahanku
harap kau akan segar dan sentiasa tumbuh walau yang baru
kerna aku akan sentiasa ada dan bersamamu selalu
jika kau layu tak bertumbuh
aku juga akan turut bersama melayari penghujung kasidahmu itu

lafazkan kalimah chintamu . . .

aku hanya menerka dan menulis saja
munkin artinya berbeda luar dan dalamnya
setiap lafaz adalah pembunuh dan pemberi nyawa
harap kau merasakan inti chinta yang sama

chinta adalah kuasa yang mengawal jiwa
mereka yang tewas akan padah menerima akibatnya
yang mengerti saja akan senyum berlayar dalam lautannya
kerna chinta mereka bukan chinta manosia biasa

setiap kalimat adalah permulaan sebelum penamat
dimana luahan amat sukar untuk ditanam dan disemat
payahnya seperti ada paku yang tersekat
tersekat didalam urat-urat suara yang tidak mudah untok dilihat

selagi ada nyawa teruskanlah berchinta
selagi ada waktu luahkanlah apa yang dirasa
kerna kita tidak pasti sampai bila boleh buka mata
kelak menyesal menangis tidak berair mata

muntahan untok cik sue (suhaila) maaf jika tidak sama dengan novelnya . . .

Saturday, November 20, 2010

halusinasi . . .

termenung sendhiri bersama pemerhati
bertemankan alunan berlagu sepi tanpa bunyi
fikiran kadang pergi kadangnya kembali
seakan ingin bertemu berjumpa si mati

aku tahu aku sedang diperhati
tetapi aku buat-buat tak peduli
terasa kechut timbul dalam hati
kerna disapa keliling tak mengerti

hanya tersenyum buat aku lupa
lupakan segala apa yang melanda
memang sakitnya tak akan terubat reda
walau kubalut anduh sambil ketawa

aku suka keadan seperti ini
keadaan sunyi tenangkan dhiri
biar aku saja rasakan sendiri
kerna yang lainnya tidak akan mengerti

sebelum aku mati untuk sepertiga malam
izinkanku tatap senyumanmu wahai bidhadari
akanku tatap walaupun sekejap
kerna aku pasti  kita akan bersua di akhir duniaNYA nanti

Sunday, November 14, 2010

jika di izinkan . . .

setiap yang berlaku sudah siap dichatit satu persatu
cuma kita sengaja berdalih dan buat-buat tidak tahu
salahkan segala apa yang telah berlaku
pabila diri tidak dapat mengelak dari kebodohan terdahulu

memang telah disiapkan kasidah riwayat kita
dari mula bernafas hingga disekat pada akhirnya
kita yang mencorak rekaan yang diterima
samada ingin cantik atau hodoh keadaanya

jika di izinkan memang yang molek saja ingin dipinta
tapi sayang jika semoanya senang , apa guna dicipta syorga neraka
baik disatukan saja semoa manosia
tapi DIA tahu apa yang dilakukannya
jadi janganlah bodoh bertanya soalan yang sama

kita yang mengarah jalan cherita sendiri
bukan mengharapkan bantuan mendatang seperti mimpi
tawakal adalah pelengkap saat akhir nanti
selepas kita puas usaha bermati-mati

Thursday, November 11, 2010

selamat pagi sang peneman . . .

tersadar aku kerna kejutanmu
yang sering munchul sesudah malam berlalu
tidak pernah serik mahupun jemu
hanya menuruti saja peredaran waktu

kau patuh dengan tanggungjawab
tidak pernah ingkar mahupun menjawab
itu tandanya jiwa kau jiwa yang yang hebat
mudahan sentiasa mendapat berkat

selamat pagi buat kau sang peneman
layankan aku sehingga ketemu semula si bulan

seindah mentari . . .

terang sungguh pancharan mentarimu
buatkan aku mengenyit bila memandang selalu
walau hangat aku biarkan berlalu
kerna ku tahu kau sentiasa disampingku

buatlah apa sesuka hatimu
janji kau tidak sesekali marah padaku
inginku tatap keindahan mentarimu itu
biar gelap aku buat tak tahu

keindahanmu tidak dipandang mereka yang lalu
kerna mereka tidak pernah bersyukur mengenai sesuatu
hanya yang mengerti orang-orang macam aku
yang juga tidak diendah manosia lain yang lalu

Sunday, November 7, 2010

dia . . .

dia . . .
siapakah dia
yang mendenyutkan kembali nadi-nadi chinta
yang dulunya mati terputus satu persatu
ingin sangatku bersemuka dengannya

dia . . .
dialah mainan yang menjadi peneman mimpi
sentiasa tegar menghadirkan dhiri
mambuat aku semakin bernyawa kembali
juga senyum dan tertawa sendhiri

terimakasih dariku untuk  si dia
kerna membantuku untuk bernafas semula
nafas yang segar , sesegar taman bunga chinta
walaupun belum pasti  aku menawan hatinya
cukuplah sekadar aku saja mengetahuinya